Seleksi Substansi Bakal Calon Kepala Sekolah

PROBOLINGGO – Dalam rangka untuk mengisi kekosongan kepala sekolah tingkat SD dan SMP di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur serta Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) Solo menggelar seleksi substansi bakal calon kepala sekolah di Resto Hotel Paseban Sena Probolinggo, Senin hingga Rabu (9-11/12/2019).

Seleksi substansi bakal calon kepala sekolah ini diikuti oleh 40 orang peserta dari 37 lembaga dengan rincian 30 orang calon dari SD dan 10 orang calon dari SMP. Mereka adalah para bakal calon kepala sekolah yang sudah lolos seleksi administrasi. Sebagai narasumber dan assessor berasal dari LPPKS Solo dan LPMP Jawa Timur.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Dewi Korina didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala LPMP Jawa Timur Bambang Agus Susetyo, perwakilan dari LPPKS Solo serta Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dispendik Kabupaten Probolinggo Sunalis, Senin (9/12/2019). Pembukaan ini ditandai dengan penyerahan bahan ajar dan penyematan tanda peserta secara simbolis.

Plt Kepala LPMP Jawa Timur Bambang Agus Susetyo mengharapkan agar para calon kepala sekolah ini nantinya bisa menjadi pemimpin-pemimpin yang luar biasa. Tahapan seleksi substansi ini merupakan bagian dari bagaimana menentukan seorang pemimpin kepala sekolah.

“Tugas kepala sekolah itu harus mampu menyelaraskan dan mengimbangi dari program yang sudah dicanangkan oleh Pemerintah Daerah. Sebab saat ini, kepala sekolah merupakan guru yang diberi tugas untuk memimpin dan mengelola sekolah. Jadi bukan tugas tambahan lagi seperti aturan sebelumnya,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Bambang berpesan agar para kepala sekolah senantiasa meningkatkan komunikasi, koordinasi, kolaborasi dan kreatifitas. Kepala sekolah harus betul-betul inspirasi terhadap sebuah program. Masa-masa pergeseran pembelajaran dari konvensional ke digital harus diawali dengan tokoh kepala sekolah.

“Handphone anak-anak bukan hanya untuk bermain tapi untuk pembelajaran. Rumah belajar sudah siap untuk membackup hal tersebut. Jadilah kepala sekolah yang kreatif dan percaya diri dalam memimpin dan mengelola sekolahnya,” harapnya.,

Sementara Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Dewi Korina mengatakan kegiatan seleksi substansi bakal calon kepala sekolah ini dilakukan untuk mengisi kekosongan sebanyak 66 kepala sekolah di Kabupaten Probolinggo, baik tingkat SD maupun SMP. Seleksi administrasi kali ini tidak sama seperti dulu. Seleksi administrasi ini disamping berkas nanti dicocokkan dengan aplikasi dan Dapodik.

“Alhamdulillah tahap 1 seleksi administrasi bisa dilalui dan ini seleksi yang kedua berupa selektif substansi. Seleksi substansi ini dilihat bagaimana potensi, performance, kemampuan akademiknya serta kemampuan manajerialnya. Kami berharap semoga yang lulus seleksi administrasi ini bisa lulus seleksi substansi,” katanya.

Menurut Dewi, kalau seleksi substansi ini lulus pihaknya masih belum bisa mengangkat kepala sekolah. Sebab mereka masih harus mengikuti diklat (pendidikan dan pelatihan) calon kepala sekolah pada tahun 2020 mendatang.

“Kalau mereka lulus baru boleh dilantik dan kalau tidak lulus harus ikut diklat lagi. Saya mohon doanya semoga yang lulus seleksi substandi banyak. Kemudian pada saat diklat dan ujian lulus. Setelah itu baru kita bisa mengangkatnya sebagai kepala sekolah. Sementara ini kekosongan kepala sekolah masih kita rangkap dengan sekolah terdekat, tetapi pembelajaran tetap berlangsung,” jelasnya.

Dewi menerangkan untuk menjadi seorang kepala sekolah memang harus melalui tahapan demi tahapan. Sebab tantangan seorang kepala sekolah ke depan semakin banyak. Karena kepala sekolah merupakan ujung tombak yang tidak hanya sebagai manager kreatif dan inovatif saja, tetapi juga Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Sehingga ilmunya harus banyak dimulai dari mindset yang dilihat dari kepala sekolah.

“Karena kita memiliki keterbatasan mulai dari kepala sekolah, guru, murid, jarak dan orang tua, sehingga dibutuhkan kreatifitas yang diekplor diri di luar dan dijadikan sebagai peluang untuk mengurangi segala kekurangan. Di substansi ini nanti akan diseleksi bagaimana pengembangan potensi dirinya, semangat dan komitmennya. Selama tiga hari para asesor akan mengamati hal itu. Saya bergarap 40 orang ini lulus subtansi semua,” tegasnya.

Lebih lanjut Dewi menjelaskan, peningkatan mutu sekolah dan angka partisipasi sekolah dari SD ke SMP dan SMP ke jenjang berikutnya menjadi tantangan tersendiri bagaimana kepala sekolah mau memberdayakan potensi di sekelilingnya untuk memajukan sekolahnya. Bagaimana mengembangkan potensi dirinya tidak hanya dihafal tapi juga dipraktekkan.

“Kepala sekolah sebenarnya tidak ribet manakala bersungguh-sungguh dan mentaati aturan perundang-undangan yang sudah ditetapkan. Tetapi jangan lupa di luar pendidikan juga ada undang-undang lain yang saling terkait, misalnya tentang perlindungan anak dan lain sebagainya,” pungkasnya. (wan)